BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Selasa, 23 Juni 2009

Mahasiswa dan Demokrasi Palsu

Entahlah, mungkin gue jadi orang yang munafik dalam hal ini. Tapi, gue bener-bener gak nyangka aja kalo mahasiswa pun tak kalah cerdik sama seperti pejabat-pejabat politik di atas sanah. Mahasiswa, sesorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang paling tinggi, yang sering gue lihat di televisi menjadi sosok yang pandai berorasi, memperjuangkan rakyat, menghujat para politikus yang pandai mengatur segalanya demi kesejahteraan golongannya. Itulah sosok mahasiswa perjuangan yang tampil dalam kotak hitam itu. sungguh mulia.

Namun, ternyata itu memang bukan untuk menggeneralisasikan sosok mahasiswa. Gue hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ketika gue tau begitu banyak sandiwara yang terjadi dalam suatu kepengurusan sebuah panitia di kampus gue.

Ironis. Dan gue pun berdecak kagum. Orang-orang yang gue anggap mempunyai pemikiran yang sportif pun ternyata ikut andil dalam sandiwara berencana itu. dan, salah satu dari mereka pun mengakui bahwa memang kesemuanya telah direncanakan.

Yang pertama, dalam pembentukkan panitia, ternyata mereka-mereka yang mempunyai jabatan yang lebih tinggi pun telah menentukan pilihan siapakah yang akan menjadi ketua dari kepengurusan itu. Dan pada saat hari pembentukkan ketua, seolah-olah terjadi lah peristiwa yang demokratis.

“Siapa yang mengajukan diri untuk menjadi ketua?” teriak pejabat tertinggi itu dengan suara lantang bak pahlawan demokrasi.

Hingga, munculah sesosok laki-laki dengan penuh percaya diri maju ke depan. Sosok yang membuatku terkejut bahwa dia begitu percaya diri. aku pun baru tahu bahwa sosok itu memang telah diberi mandate untuk maju sebagai calon ketua.

Selang beberapa menit, tidak ada calon lain yang mampu maju ke depan.

“hayooo… siapa lagi, nih?? Mana calon yang lain??” sang pejabat tinggi ini mencari boneka-boneka penghibur rupanya. Boneka-boneka yang hanya sebagai penyemarak proses pemilihan.

Beberapa oknum yang mengetahui sandiwara klise itu pun menyerukan beberapa nama yunior lainnya. Mereka seolah-olah mempunyai rekomendasi yang sanggup melawan sosok yang telah maju terlebih dahulu itu. suara teriakan mereka pun membuahkan dua calon lagi. Dan keduanya adalah para yunior. Jika dibandingkan dengan sosok yang terlebih dahulu maju, jelas… dua lainnya jauh jauh pengalamannya… Kasihan mereka, hanya dijadikan boneka pemanis dan peramai demokrasi palsu.

Dalam proses pemilihan ketua melalui voting, jelas sekali membuat dua orang itu merasa dipermalukan. Sangat. untuk calon kedua dan ketiga hanya memperoleh suara tak lebih dari lima suara. Sedangkan, sosok laki-laki yang terlebih dahulu maju itu jauh melesat dengan delapan puluhan suara. Hah! Mana suara-suara yang meneriakkan nama kedua calon itu?? Mereka bukan mengagung-agungkan kedua calon itu. Mereka bukan maksud mempercayai kedua calon itu sehingga direkomenadasikan untuk maju sebagai calon ketua. Mereka malah menjerumuskan kedua calon itu ke dalam panggung sandiwara yang menelanjangi kedua calon itu. Mereka menjadikan kedua calon itu sebagai penyemarak demokrasi palsu.

Sungguh, itu semua tak jauh beda dengan apa yang terjadi pada dunia pejabat tinggi di atas sanah. Mahasiswa, mereka yang menghujat atas kebohongan publik itu. Mahasiswa, mereka yang mengecam habis-habisan segala pelaku demokrasi palsu. Tapi sekarang, mahasiswa sendiri lah yang melakukannya itu atas nama demokrasi juga…

0 komentar: